Linux Untuk Managing Director dan Manajemen Level Atas

Jakarta, 19 September 2008 – Yohanes Dwi Anggoro

Selama proses migrasi, tantangan terberat adalah bagaimana mengubah sistem operasi yang digunakan oleh para boss menjadi Linux. Boss-nya pun bukan sembarang boss, melainkan boss pemilik perusahaan.

Menghadapi staff atau supervisor hingga level manajer masih bisa dilakukan secara persuasif. Untuk supervisor dan staff kebawah malah bisa langsung pakai paradigma kekuasaan🙂, tapi kalau managing director menolak, masya kita mau berantem, nggak juga khan…
Kebetulan Managing Director saya menggunakan Windows OEM yang sudah dibundel sewaktu beli. Namun, karena aktivitas yang cukup tinggi dalam hal keluar masuk data (CD, USB Flash Disk maupun email & internet), virus dan trojan sudah menjadi makanan sehari-hari. Saya sudah memasang dan gonta-ganti antivirus berbagai jenis tapi hanya bisa mengurangi dan menahan selama beberapa waktu. Kadang, antivirus justru memperlambat kecepatan komputer, padahal spesifikasi yang digunakan tidak jelek-jelek amat. Memori 512 MB dan Pentium 4 3 Ghz. Aplikasi yang digunakanpun hanya pengolah kata dan spreadsheet serta aplikasi multimedia.

Pendekatan saya pertama dalam upaya melinux-kan komputer managing director adalah mengubah email client menjadi Thunderbird dan mengubah browser dari Internet Explorer menjadi Opera dan Firefox. Hal ini berjalan sukses karena tidak ada masalah berarti. Data email outlook dapat dengan mudah diimport kedalam Thunderbird. Browser Opera dan Firefox berjalan dengan mulus dan cepat dibandingkan Internet Explorer.

Masalah yang bolak-balik berkunjung adalah virus dan trojan. Pemasangan anti spyware dan antivirus tidak banyak membantu. Akhirnya, kemarin sore boss datang kemeja saya melihat komputernya dioperasi oleh staff saya. Boss melihat SuSE 10.2 saya yang menggunakan Gnome dan KDE (saya pakai 2 komputer, hehehe… Satu untuk penggunaan pribadi, satu lagi sebagai kelinci percobaan) dan bertanya,

“Lho, kamu sama staff IT dan yang lainnya pakai apa ?”

“Linux pak.”

Si Boss bertanya-tanya sedikit soal kemampuan Linux menangkal virus dan trojan dan stabilitasnya terhadap kemungkinan hang. Kebetulan, penggunaan open source memang merupakan kebijakan yang dibuat secara resmi diperusahaan, meski penerapannya dilakukan bertahap, jadi si Boss tidak terlalu asing pada Linux.

Akhirnya boss berkata, “Kalau begitu, saya pakai Linux juga deh. Toh saya sudah pakai Opera dan Thunderbird. Asal saya bisa buka file Excel dan Word sudah cukup bagi saya.”

Ah, ternyata justru lebih mudah dari yang dibayangkan…

Saran saya, jika ingin sukses melakukan migrasi sistem dari Windows ke Linux untuk level manajemen atas, siapkan sebaik-baiknya agar Linux memberikan citra yang positif. Ujicoba terlebih dahulu dilevel IT. Kemudian, lakukan beberapa setup kecil agar perubahan berjalan mulus. Jika kita sudah sukses melakukan migrasi sistem untuk top manajemen, meminta level operasional menggunakan Linux semestinya bisa lebih mudah. Paling tidak, kita bisa menggunakan wewenang dari top manajemen untuk introduksinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: